ALPUKAT BAHAGIA GENJAH, LEZAT DAN LEBAT

        

Alpukat bahagiawati termasuk alpukat yang genjah tanpa harus memrlukan penanganan khusus, Warna kulit hijau kekuningan ketika matang dan mudah di kupas. Rasa daging buah Pulen, Gurih dan aga manis sehingga cocok untuk dimakan langsung. Itu karena pohon alpukat milik Bahagiawati tak putus berbuah sepanjang tahun. Setiap kali habis dipetik, buah-buah baru kembali bermunculan. Produksi paling banyak pada Februari – Maret. Pada puncak musim berbuah itu Bahagiawati bisa memetik hingga 50 buah sekali panen. Setiap buah berbentuk seperti lampu pijar itu rata-rata berbobot 500 – 800 g. Dalam setahun Bahagiawati bisa menuai hingga 250 buah. Padahal, Bahagiawati tak pernah merawat pohon alpukatnya secara intensif. Penyiraman hanya mengandalkan hujan yang turun. Sumber nutrisi berupa bahan organik dari serasah daun yang berguguran.

Lezat

Setiap kali panen peneliti di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian itu membagi-bagikan buah pada kerabat dan rekan sejawat. Meski berulang kali mencicip alpukat dari halaman rumah Bahagiawati, mereka tak pernah bosan. Bahkan, kerap kali memesan lebih awal bila musim panen raya tiba.

Penulis menjadi mafhum tentang hal itu waktu mencicipi sendiri buah Persea americana itu. Saat menyantapnya gigi seperti terbenam dalam daging buah setebal 2 cm. Warna daging yang  kuning seperti mentega pun sungguh menggugah selera.

Soal rasa patut diacungi jempol:  pulen, gurih, dan agak manis. Citarasa lezat itu kian mantap saat buah dipanen matang optimal. Cirinya, bila buah digoyang terdengar suara biji lepas yang beradu dengan dinding daging buah alias koclak. Warna kulit biasanya hijau kekuningan. Pada buah matang sempurna kulit gampang dikelupas. Pisahkan kulit dari daging, lalu santap dagingnya langsung atau diolah dulu menjadi  jus dan bahan campuran es buah.

Menurut Bahagiawati, alpukat yang tumbuh di halaman rumahnya itu berasal dari biji yang diperoleh saat membeli alpukat di pasar tradisional di Surabaya, Jawa Timur, pada 1996. Biji itu lalu ditanam dalam polibag. Setelah mencapai tinggi 50 cm, bibit ditanam di halaman rumah.

Urung tebang

Bahagiawati nyaris menebang saat pohon berumur 7 tahun dan tak kunjung berbuah. Apalagi pada 2003 pohon anggota famili Lauraceae itu malah diserang ulat  Seissetia oleae. Tak dinyana, serangan ulat justru membawa berkah. Setelah serangan itu pohon buah berlemak nabati tinggi itu malah berbunga dan akhirnya berbuah. Kejadian serangan ulat berulang hingga 2 – 3 kali musim buah raya. Kini serangan berhenti, tapi tanaman tetap berbuah lebat.

Berdasar pengamatan penulis alpukat di kediaman Bahagiawati termasuk bertipe bunga B. Tepung sari dan putik matang berbarengan sehingga proses penyerbukan dapat terjadi meski tanaman tumbuh tunggal. Berbeda dengan alpukat tipe A yang bunga betina dan jantan tidak matang berbarengan. Akibatnya tanaman yang tumbuh tunggal sulit berbuah meski sering berbunga.

Untuk melestarikan alpukat berkarakter unggul itu, penulis mencoba memperbanyak dengan cara vegetatif yaitu sambung pucuk. Teknik perbanyakan itu paling ideal karena tingkat keberhasilannya tinggi, yakni mencapai 80%. Sedangkan teknik okulasi rentan mati. Tingkat keberhasilannya hanya 60%. Perbanyakan dari biji tidak dianjurkan karena nantinya tanaman baru berbuah umur 6 – 8 tahun. Sementara pohon asal sambung pucuk berbuah pada umur 3 – 4 tahun. Karakter tanaman asal biji juga dikhawatirkan berubah dari sifat induk.

Untuk memudahkan identifikasi dan menghargai sang pemilik, alpukat di halaman rumah Bahagiawati itu diberi nama bahagia. Nama itu diambil dari nama kecil Bahagiawati. Dengan berbagai karakter unggul itu bahagia diharapkan dapat memperkaya plasma nutfah alpukat unggul tanahair. (Ir Wijaya MS, praktikus tanaman buah di Bogor, Jawa Barat)

photo stok bibit di kebun kami: