DURIAN TERMAHAL DI PULAU TIMAH

   

Durian namlung petaling termahal di Bangka-Belitung. Harganya bisa mencapai Rp500.000 per buahDurian jebus berdaging tebal dan berwarna kuning pekatKolektor durian di Bangka-Belitung, Delis, menanam 30 namlung petalingPohon induk durian namlung petaling berumur 200 tahun batangnya keropos sehingga hampir matiItulah harga durian lokal termahal di Indonesia asal Provinsi Bangka-Belitung. Harga per buah rata-rata Rp300.000. Harga semahal itu keruan saja membuat mata terbelalak. Selama ini harga durian unggul lokal paling pol Rp50.000-Rp75.000 per buah. Harga itu bahkan mengalahkan harga durian udang merah, salah satu durian terenak di Pulau Pinang, Malaysia, yang biasanya dibanderol RM45-RM50 atau Rp135.000-Rp150.000 per buah.

Informasi harga yang fantastis itulah yang mendorong penulis untuk mengunjungi Pulau Timah pada 23 Juli 2011, bersama kolektor durian asal Palembang, Sumatera Selatan. Lokasi kebun durian termahal itu di Desa Jebudarat, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Bangka-Belitung (Babel). Untuk menuju ke sana mesti menempuh perjalanan selama 3 jam dari bandara Dipati Amir di Pangkalpinang.

Namlung petaling

Sesampainya di sana penulis disodorkan 2 durian namlung petaling, satu durian bernama-maaf-tai sapi, satu durian jantung, dan satu durian jebus, oleh pengelola kebun, Fu Khiun Bun. Bila dihitung-hitung total harganya Rp1,5-juta atau rata-rata Rp300.000 per buah. Menurut kolektor dan hobiis durian asal Bangka, Delis, durian yang disebut pertamalah yang merupakan durian termahal karena rasanya paling enak sehingga menjadi buruan para mania durian.

Karena jumlahnya terbatas, saat musim panen harga namlung petaling melambung fantastis. Saking enaknya, pernah suatu kali seorang pengusaha asal Pangkalpinang rela membayar sampai Rp500.000 per buah. Dengan harga itu, pantas bila si raja buah itu hanya dikonsumsi orang-orang “besar” dari Pangkalpinang. “Yang membeli namlung petaling biasanya tak pernah tawar-menawar harga. Asal ada uang dan mau membayar mahal, baru bisa mencicip,” kata Delis.

Namlung petaling sejatinya telah populer sejak lama. Di Babel ia lebih populer dengan nama chumasi. Nama itu diambil dari bahasa Hokian yang berarti kotoran babi. Disebut demikian karena di bawah pohon induk menjadi tempat berteduh favorit babi peliharaan warga kampung Jebu Darat yang didominasi warga berketurunan etnis Tionghoa. Menurut A Bun, saking terkenalnya nama durian itu disebutkan dalam salah satu lagu berbahasa Hokian.

Pada 2001, pemerintah Provinsi Bangka-Belitung bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Babel dan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), merilis chumasi sebagai varietas unggul nasional dengan nama namlung petaling. Nama namlung diambil dari nama pemilik pohon induk. Sedangkan petaling dari nama lokasi kantor BPTP Babel di Petaling, Pangkalpinang.

Terbukti juara

Sayangnya hasrat untuk mencicip durian termahal mesti ditunda. Pasalnya, anggota rombongan yang rencananya berjumlah 4 orang belum seluruhnya berkumpul. Akhirnya durian dari kebun A Bun itu di bawa ke penginapan.

Baru keesokan hari setelah anggota rombongan lengkap, satu per satu durian dari kebun A Bun itu dicicip. Sasaran pertama adalah jebus. Durian berbentuk bulat itu tergolong istimewa karena berdaging tebal dan berwarna kuning pekat. Rasanya manis legit. Sementara durian jantung bijinya agak besar. Namun, soal rasa tak kalah lezat dengan si jebus.

Meski namanya “menjijikan”, tapi rasa durian tai sapi memang cocok buat mania durian. Selain dagingnya tebal, tekstur dagingnya pulen. Rasanya manis dan agak pahit. Namlung petaling sengaja disimpan untuk dicicp terakhir. Walau dicicip paling akhir, rasa durian primadona Babel itu terbukti juara: manis dan gurih.
Daging buahnya sangat tebal. Dijamin tak akan kecewa meski mesti membayar mahal.

Padahal, menurut A Bun durian namlung petaling dari kebunnya bukan berasal dari pohon induk asli, tapi dari keturunannya yang 13 tahun lalu diokulasi oleh Delis. Buah dari pohon induk konon lebih legit dan pulen. Sayangnya saat eksplorasi pohon induk sedang tidak berbuah.

Hampir mati

Meski tidak berbuah, rombongan tetap melanjutkan perjalanan ke lokasi pohon induk. Sesampainya di sana, terlihat pemandangan mengenaskan. Pohon induk chumasi berumur 200 tahun itu terlihat meranggas. Batangnya keropos dan beberapa cabang primer mati. Pohon induk itu terakhir berbuah pada 2009. Ketika itu sang pemilik masih meraup omzet hingga Rp30-juta. Bahkan, penjaganya saja sampai diberi upah Rp3-juta selama musim panen, plus uang makan Rp50.000 per hari. Karena si pemilik sudah tua dan sering sakit-sakitan, akhirnya pohon induk kurang terawat.

Beruntung namlung petaling itu sempat diperbanyak oleh Delis. Beberapa di antaranya sudah ditanam beberapa pekebun seperti A Bun, Ridwan, dan Ramsi. Delis mengebunkan 30 chumasi bersama 43 varietas unggul dari seluruh Babel lainnya di lahan 4 ha sejak 2006. Setahun lagi diperkirakan berbuah. Hingga November 2011 diperkirakan tersedia 8.000 bibit namlung petaling. Dengan begitu diharapkan durian termahal di Pulau Timah itu tetap lestari. (Panca Jarot Santoso, peneliti durian Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat)

Cara Mendapatkan Bibitnya

Bapak dan ibu para hobyis durian bisa mendapatkan bibitnya di websitete kami KhanzaGrosirBibit.com, dengan harga yang terjangkau dan kwalitas terjamin. harga per pohon Rp.75.000,- belum termasuk ongkos kirim.