MISRA, ALPUKAT TERBAIK 2016

Misra Nelly menunggu-nunggu panen raya avokad pada April—Mei. Selama dua bulan itu pekebun di Kelurahan Baganpete, Kecamatan Alambarajo, Jambi, itu menuai 200 kg dari sebuah pohon berumur 20 tahun. Nelly tak perlu memboyong Persea americana itu ke pasar untuk menjualnya. Sebab, pengepul dengan ringan kaki datang ke rumahnya dan membeli Rp15.000—17.000 per kilogram.

Banyaknya pengepul yang mendatangi Nelly bukan tanpa alasan. Itu karena avokad milik Nelly memang unggul. Sosok buahnya mirip bohlam, agak lonjong. Kulitnya mengilap. Bobot per buah 374—495 gram. Penikmat mudah mengelupas kulit layaknya mengupas pisang. Ketika buah dibelah, tampak daging berwarna kuning seperti mentega. Daging buahnya tebal, mencapai 2 cm dengan ukuran biji relatif kecil.

Rasa juara

Citarasa avokad itu perpaduan manis dan gurih sehingga menciptakan sensasi yang lezat. Avokad Nelly memiliki tingkat kemanisan 7° briks. Oleh sebab itu untuk menikmatinya tidak perlu menambahkan gula atau susu. Porsi buah yang dapat dimakan juga cukup banyak, mencapai 74% dari seluruh bagian buah. Itulah sosok pemenang pertama kategori avokad pada Lomba Buah Unggul Nusantara yang diselenggarakan Majalah Trubus.

Pada perhelatan kali ini, Trubus bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Institut Pertanian Bogor. Para juri sepakat mendaulat avokad Misra Nelly yang terbaik di kelasnya. Sebelum menobatkan sebagai juara, panitia lomba, Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata melakukan verifikasi pohon milik Nelly pada awal November 2016. Di halaman belakang rumah Nelly tumbuh sebatang pohon anggota keluarga Lauraceae itu.

Pohon berketinggian lebih dari 10 meter itu tumbuh berdampingan dengan mangga, sawo, dan pisang. “Ketika di sana hanya satu buah yang bersisa di pohon dan kondisinya juga belum masak,” ujarnya. Reza pun memetiknya untuk melakukan identifikasi. Semula Nelly memperoleh bibit avokad itu dari seorang rekan di Jambi. Bibit berukuran satu meter itu pun tumbuh subur.

Perempuan berusia 46 tahun itu hanya memberikan pupuk kandang. “Pemberian minimal delapan bulan sekali sebanyak 60 kilogram,” ujarnya. Reza menuturkan unggulnya avokad milik Nelly lantaran faktor genetik. “Dengan perawatan yang minimal saja sudah menunjukkan sifat unggul,” jelas doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Pada umur delapan tahun tanaman introduksi asal Meksiko itu mulai berbuah.

Pada panen perdana Nelly memetik sekitar 30 kilogram. Panen pada 23 Oktober 2016 Nelly mengirimkan delapan avokadnya ke panitia Lomba Buah Unggul Nusantara. Pada kategori avokad terdapat 18 kontestan. Artinya di kelas avokad, koleksi Nelly menyingkirkan 17 pesaing. Para peserta itu datang dari berbagai daerah di tanahair, di antaranya Semarang, Jakarta, Bogor, dan Kediri.